They're the treasures.. My strength.. My batteries.. My powers.. My belief in the power of God.. They're my laughters..My Joy.. My everything in life...
Monday, November 14, 2016
Bio Oil untuk Kulit yang Mulai Berkerut
"Pertama kali saya kenal Bio Oil itu dari cerita temen-temen blogger yang lagi rame ngomongin Bio Oil. Mereka pake untuk ini. Mereka pake untuk itu. Dan ketika Bio Oil bikin event, saya hadir. Saya pengen tau kayak apa sih bagusnya Bio Oil itu.
Dan sesudah itu saya pakein Bio Oil ke anak ke4 saya yang punya bekas luka sobekan di ujung luar matanya. Saya tadinya berpikir, bekas luka sobek itu pasti akan hilang, karena itu kejadiannya waktu anak saya berumur 3 tahun. Tapi kok ternyata sampai dia berumur 9 tahun, bekasnya nggak hilang juga. Dan ketika saya pakein Bio Oil, dalam waktu seminggu bekas luka sobeknya itu nggak terlalu dalam. Tapi karena saya tidak terlalu telaten, saya akhirnya kelupaan tuh nggak pakein lagi. Padahal dalam waktu seminggu aja udah berkurang bekas luka sobeknya :(
Wednesday, October 12, 2016
#TemanBaru: Pejuang Ibu Anak Kembar Wiwid Wadmira
Monday, September 19, 2016
Aku Berduka. Sangat.
Kedua kaki yang terbiasa menopang tubuh gue dalam menghantam semua cobaan hidup, bener-bener lunglai. Nggak ada kekuatan sama sekali. Tulang-tulangnya kerasa kayak ilang nggak tau kemana. Air mata terproduksi dengan teramat banyaknya sehingga sanggup terus mengalir selama rasa kaget dan duka yg amat dalam ini ada di dada.
Udah nggak peduli lagi alis harus diapain, mata harus dibingkai dengan eyeliner, dan pinggiran bibir yang gelap harus ditutupi dengan lipstik. Nggak peduli lagi. Biarkan mereka apa adanya. Biarkan mereka ikut berduka. Kedua tangan yang terbiasa dipakai untuk 'mencangkul' demi memenuhi semua kebutuhan 4 anak, cuman bisa memegang lemah lengan anak kedua gue, Marshall.
Anak manis yang baru berusia 10 tahun ini harus mengubah fungsinya dari seorang anak yang juga berduka sangat, menjadi sosok lelaki yang menjadi tempat ibunya bersendar. Menguatkan ibunya. Mommy runtuh. Gitu pikirnya.
Iya. Big Mommy rasanya lossss kehilangan separuh jiwa dan raganya. Suami yang biasanya menjadi setengah jiwanya dalam berjuang di dunia, telah dipanggil Allah. Gue nggak tau gimana harus bangkit sesudah ini. Gue nggak tau gimana harus menjadi kuat sesudah ini. Gue nggak tau gimana bisa hidup tanpa cintanya sesudah ini.
Gue hanya bisa menangis. Meraung. Bersender. Gue lemah.. Gue nggak ingin beliau pergi secepat ini.
Lalu tiba-tiba situasi berubah. Total.
Tiba-tiba berasa seolah-olah gw berada beberapa meter dibatas tanah. Menyaksikan orang-orang yang sedang berduka. Gue menyaksikan suami gue menitikkan air mata. Empat anak gue berangkulan menangis bersama. Mereka menangisi kepergian Big Mommy nya.
Ternyata gue yang sedang berkafan siap-siap masuk ke liang kubur. Sementara gue berusaha menjerit kepada suami dan anak-anak gue. Nggak ada yg bisa denger sama sekali. Nggak ada.
"Saling jaga ya nak.. saling sayang.
Kalian harus kuaaatt!!!"
Mereka nggak dengar.
Tanah mulai dijatuhkan ke liangnya. Pertanda sebentar lagi akan tertutup jasad gue dengan tanah.
Mulai berasa sakit.
Mulai berasa takut.
Gue sangat jarang ketakutan. Tapi ini gue takut dan gue pun mulai nangis menjerit.
Gue coba menjeritkan ke suami dan anak-anak gue. Nggak ada yang bisa denger. Nggak ada.
"Jangan pernah tinggalkan shalaaaaattt. Jangan! Kalian pasti menyesal. Sakit banget ini! Banyakin amal baik. Banyakin!!"
Terus gue teriak kesakitan. Tapi gue nggak tau gue diapain.
Lalu gue terhenyak. Gue sadar dengan keadaan deg2an. Gue nggak lagi tidur. Tapi tiba2 gambaran itu muncul di dalam kepala gue.
Strong message. Banget.
Gue tersadarkan akan banyak hal.
Gue belum sepenuhnya mencintai Allah. Gue menumpahkan keseluruhan cinta gue ke suami gue. Sehingga apa jadinya kalau beliau dipanggil nanti. Gue akan lemah. Sangat. Beda halnya kalau gue konsentrasikan cinta gue kepada Allah. Pasti cinta gue terhadap suami juga terjaga. Tapi ada sumber kekuatan yang masuk ke hati gue untuk persiapan ketika hal yg gue takutkan terjadi.
Gue masih harus meningkatkan hormat dan rasa bakti gue ke suami gue. Karena di dunia ini, jelas terlihat gue masih 'lumpuh' tanpa beliau.
Gue masih kurang amalan baik.
Shalat gue pun masih belum baik.
Masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri. Masih. And I will take that chance. Starting from now. Ketika strong reminder itu terjadi beberapa jam yg lalu dan langsung gue tuliskan ketika gue sedang terduduk di Mall menunggu jadwal meeting.
Tulisan ini akan menjadi pengingat gue from time to time. In syaa Allah.
Saturday, July 9, 2016
The Love is Still There: Kaos Kaki
Gue itu kemana-mana kalo keluar rumah pasti pakai kaos kaki. Kaos kaki tipis muslimah itu lho. Nggak perlu lah gue jelaskan mengapa ya. Dan nggak perlu jugalah dipertanyakan mengapanya.
Dan.. dari dulu sampek sekarang.. dengan segala kegiatan gue yang segambreng, dari mulai urusan anak-anak sampek urusan cari duit, salah satu cara gue untuk ngecharge tenaga adalah dengan tidur di mobil. Gue itu orangnya pelor abis dari dulu. Begitu masuk mobil dan mesin mobil nyala, mata gue kayak digelayutin hantu pertanda ngantuk dan dalam hitungan detik bisa langsung.. blek... tidur. Temen-temen kuliah gue sampek ngasih julukan 'Abek' singkatan Anak Bekasi ke gue.. :D
Saturday, July 2, 2016
Es Krim Ekonomis atau Es Krim Bangsawan?
Thursday, June 16, 2016
#TemenBaru: April Hamsa, Uang Jajan dari Blogging
Wednesday, June 1, 2016
#TemanBaru: Rach Alida Bahaweres, Pejuang Masalah Perempuan via Media
Gue punya temen baru seorang jurnalis. Gue share sedikit tentang dia karena gue yakin pasti akan ada manfaatnya untuk para wanita yang membaca. Para pria juga deng..
Namanya Rach Alida Bahaweres. Masih aktif bekerja di majalah Gatra dan juga aktif di AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Ketika gue chatting dengan mbak Alida, langsung ngeklik aja gitu. Well, temen baru gue ini agak beda. Ibu beranak tiga ini mempunyai ketertarikan besar untuk membahas masalah perempuan melalui kemampuannya dan lingkungannya. Ya karena kebetulan mbak Alida ini adalah seorang jurnalis, jadi dia menyuarakan perjuangan masalah perempuannya melalui media. But hey, it's even sharper than a sword!
Ketika gue tanya sejak kapan dan kenapa awalnya kok suka nulis tentang permasalahan perempuan, jawabnya:
"Sejak awal, mba. Sejak kuliah S1 semakin keliatan ketertarikan di isu perempuan. Apalagi pembimbing S1 aku juga dosen terkait gender di UI. Walau beliau mengajarkan komunikasi.
Dari situ, aku aktif di AJI, membuat aku jadi harus semakin belajar juga tentang perempuan. Ditambah lagi, aku melihat, dulu jarang yang menulis tentang perempuan. Hal sederhana, nggak menulis tentang profil perempuan."
Dan ketika gue tanya lagi, apa particular reasonnya sehingga tertarik nulis isu perempuan? Jawabnya:
"Gimana ya. Aku melihat perempuan itu dulunya seringkali diangkat di media mengalami diskriminasi, yang diangkat banyak unsur seksualitasnya saja. Selain itu, korban kejahatan.
Media kan juga punya kode etik jurnalistik membahas tentang perempuan, tidak diskriminasi terhadap perempuan, tapi itu yang masih banyak pelanggaran. Apalagi aku menemui banyak perempuan yang disekelilingku menjadi korban"
Lemonilo di Keluarga Baim Wong
Baru selesai nonton video Youtubenya Baim Wong dan istrinya Paula. Seneng ya kalo liat ada kesamaan yg dilakukan selebriti dengan kita, r...
-
Sebut saja namanya Atun.. lagi setengah hati menjiwai menyanyikan lagu Korea yang lagi dia puter di Youtube. Merem melek dia nyanyinya....
-
Kemarin Big Mommy pergi ke Subang, barengan sama Leader juga untuk kasih pembinaan bisnis luarbiasaku di http://bossluarbiasa.com/?id=yonna ...
-
Minggu lalu saya dapet undangan Bicara Gizi Bersama Masako dengan topik utama yaitu Strategi Penurunan Berat Badan Anak Gemuk. Yang aka...





