Monday, November 14, 2016

Bio Oil untuk Kulit yang Mulai Berkerut


"Pertama kali saya kenal Bio Oil itu dari cerita temen-temen blogger yang lagi rame ngomongin Bio Oil. Mereka pake untuk ini. Mereka pake untuk itu. Dan ketika Bio Oil bikin event, saya hadir. Saya pengen tau kayak apa sih bagusnya Bio Oil itu.

Dan sesudah itu saya pakein Bio Oil ke anak ke4 saya yang punya bekas luka sobekan di ujung luar matanya. Saya tadinya berpikir, bekas luka sobek itu pasti akan hilang, karena itu kejadiannya waktu anak saya berumur 3 tahun. Tapi kok ternyata sampai dia berumur 9 tahun, bekasnya nggak hilang juga. Dan ketika saya pakein Bio Oil, dalam waktu seminggu bekas luka sobeknya itu nggak terlalu dalam. Tapi karena saya tidak terlalu telaten, saya akhirnya kelupaan tuh nggak pakein lagi. Padahal dalam waktu seminggu aja udah berkurang bekas luka sobeknya :(

Wednesday, October 12, 2016

#TemanBaru: Pejuang Ibu Anak Kembar Wiwid Wadmira



Mau cerita tentang teman baru gue. In syaa Allah ada hal yang bisa dipetik dari cerita tentang Wiwid ini. Kalao dari versi gue adalah.. everybody has their own battle. Everybody can be a hero in their own war. Dan gue mau cerita battle versi temen blogger gue, Wiwid Wadmira.

Ketika Wiwid menikah di usia 27 tahun, sebulan kemudian Wiwid hamil. Alhamdulillah. Udah berkah dari Allah banget. Kerjaan lancar. Dapet berkah hamil pulak. Nggak berhenti sampek disitu, ternyata janinnya kembar! Bahagianya double-double. Tidak semua wanita di dunia ini dipilih Allah untuk membawa lebih dari satu janin di dalam rahimnya.

Monday, September 19, 2016

Aku Berduka. Sangat.

Kedua kaki yang terbiasa menopang tubuh gue dalam menghantam semua cobaan hidup, bener-bener lunglai. Nggak ada kekuatan sama sekali. Tulang-tulangnya kerasa kayak ilang nggak tau kemana. Air mata terproduksi dengan teramat banyaknya sehingga sanggup terus mengalir selama rasa kaget dan duka yg amat dalam ini ada di dada.

Udah nggak peduli lagi alis harus diapain, mata harus dibingkai dengan eyeliner, dan pinggiran bibir yang gelap harus ditutupi dengan lipstik. Nggak peduli lagi. Biarkan mereka apa adanya. Biarkan mereka ikut berduka. Kedua tangan yang terbiasa dipakai untuk 'mencangkul' demi memenuhi semua kebutuhan 4 anak, cuman bisa memegang lemah lengan anak kedua gue, Marshall.

Anak manis yang baru berusia 10 tahun ini harus mengubah fungsinya dari seorang anak yang juga berduka sangat, menjadi sosok lelaki yang menjadi tempat ibunya bersendar. Menguatkan ibunya. Mommy runtuh. Gitu pikirnya.

Iya. Big Mommy rasanya lossss kehilangan separuh jiwa dan raganya. Suami yang biasanya menjadi setengah jiwanya dalam berjuang di dunia, telah dipanggil Allah. Gue nggak tau gimana harus bangkit sesudah ini. Gue nggak tau gimana harus menjadi kuat sesudah ini. Gue nggak tau gimana bisa hidup tanpa cintanya sesudah ini.

Gue hanya bisa menangis. Meraung. Bersender. Gue lemah.. Gue nggak ingin beliau pergi secepat ini.

Lalu tiba-tiba situasi berubah. Total.
Tiba-tiba berasa seolah-olah gw berada beberapa meter dibatas tanah. Menyaksikan orang-orang yang sedang berduka. Gue menyaksikan suami gue menitikkan air mata. Empat anak gue berangkulan menangis bersama. Mereka menangisi kepergian Big Mommy nya.

Ternyata gue yang sedang berkafan siap-siap masuk ke liang kubur. Sementara gue berusaha menjerit kepada suami dan anak-anak gue. Nggak ada yg bisa denger sama sekali. Nggak ada.

"Saling jaga ya nak.. saling sayang.
Kalian harus kuaaatt!!!"

Mereka nggak dengar.
Tanah mulai dijatuhkan ke liangnya. Pertanda sebentar lagi akan tertutup jasad gue dengan tanah.

Mulai berasa sakit.
Mulai berasa takut.
Gue sangat jarang ketakutan. Tapi ini gue takut dan gue pun mulai nangis menjerit.

Gue coba menjeritkan ke suami dan anak-anak gue. Nggak ada yang bisa denger. Nggak ada.

"Jangan pernah tinggalkan shalaaaaattt. Jangan! Kalian pasti menyesal. Sakit banget ini! Banyakin amal baik. Banyakin!!"

Terus gue teriak kesakitan. Tapi gue nggak tau gue diapain.

Lalu gue terhenyak. Gue sadar dengan keadaan deg2an. Gue nggak lagi tidur. Tapi tiba2 gambaran itu muncul di dalam kepala gue.

Strong message. Banget.
Gue tersadarkan akan banyak hal.

Gue belum sepenuhnya mencintai Allah. Gue menumpahkan keseluruhan cinta gue ke suami gue. Sehingga apa jadinya kalau beliau dipanggil nanti. Gue akan lemah. Sangat. Beda halnya kalau gue konsentrasikan cinta gue kepada Allah. Pasti cinta gue terhadap suami juga terjaga. Tapi ada sumber kekuatan yang masuk ke hati gue untuk persiapan ketika hal yg gue takutkan terjadi.

Gue masih harus meningkatkan hormat dan rasa bakti gue ke suami gue. Karena di dunia ini, jelas terlihat gue masih 'lumpuh' tanpa beliau.

Gue masih kurang amalan baik.
Shalat gue pun masih belum baik.
Masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri. Masih. And I will take that chance. Starting from now. Ketika strong reminder itu terjadi beberapa jam yg lalu dan langsung gue tuliskan ketika gue sedang terduduk di Mall menunggu jadwal meeting.

Tulisan ini akan menjadi pengingat gue from time to time. In syaa Allah.


Saturday, July 9, 2016

The Love is Still There: Kaos Kaki


Gue itu kemana-mana kalo keluar rumah pasti pakai kaos kaki. Kaos kaki tipis muslimah itu lho. Nggak perlu lah gue jelaskan mengapa ya. Dan nggak perlu jugalah dipertanyakan mengapanya.

Dan.. dari dulu sampek sekarang.. dengan segala kegiatan gue yang segambreng, dari mulai urusan anak-anak sampek urusan cari duit, salah satu cara gue untuk ngecharge tenaga adalah dengan tidur di mobil. Gue itu orangnya pelor abis dari dulu. Begitu masuk mobil dan mesin mobil nyala, mata gue kayak digelayutin hantu pertanda ngantuk dan dalam hitungan detik bisa langsung.. blek... tidur. Temen-temen kuliah gue sampek ngasih julukan 'Abek' singkatan Anak Bekasi ke gue.. :D

Saturday, July 2, 2016

Es Krim Ekonomis atau Es Krim Bangsawan?


Ceritanya lagi berduaan sama si bungsu di Mall of Indonesia. Biasa deh.. kudu ngontrol wahana Dead Prison yang di running oleh teamnya Kompi Zombie. Eh eh eh... rugi deh kalo belon nyobain wahana zombie ini. Suwer deehh..

Okeh.. balik ke cerita awal.

Thursday, June 16, 2016

#TemenBaru: April Hamsa, Uang Jajan dari Blogging





Gue mau share lagi hasil chatting-chattingan sama temen baru Blogger gue. Siapa tau ada men-temen yang stay-at-home mom, tapi pingin punya kesibukan santai di rumah dan menghasilkan.

April Hamsa.
Apa adanya.
Nggak banyak gue ketemu sama ibu2 muda yang kalo chatting ya apa adanya aja gitu. Banyak yang berusaha menunjukkan ke-super woman-annya. Mungkin termasuk gue. Kalo April sik nggak.

Wednesday, June 1, 2016

#TemanBaru: Rach Alida Bahaweres, Pejuang Masalah Perempuan via Media


Gue punya temen baru seorang jurnalis. Gue share sedikit tentang dia karena gue yakin pasti akan ada manfaatnya untuk para wanita yang membaca. Para pria juga deng..

Namanya Rach Alida Bahaweres. Masih aktif bekerja di majalah Gatra dan juga aktif di AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Ketika gue chatting dengan mbak Alida, langsung ngeklik aja gitu. Well, temen baru gue ini agak beda. Ibu beranak tiga ini mempunyai ketertarikan besar untuk membahas masalah perempuan melalui kemampuannya dan lingkungannya. Ya karena kebetulan mbak Alida ini adalah seorang jurnalis, jadi dia menyuarakan perjuangan masalah perempuannya melalui media. But hey, it's even sharper than a sword!

Ketika gue tanya sejak kapan dan kenapa awalnya kok suka nulis tentang permasalahan perempuan, jawabnya:

"Sejak awal, mba. Sejak kuliah S1 semakin keliatan ketertarikan di isu perempuan. Apalagi pembimbing S1 aku juga dosen terkait gender di UI. Walau beliau mengajarkan komunikasi.

Dari situ, aku aktif di AJI, membuat aku jadi harus semakin belajar juga tentang perempuan. Ditambah lagi, aku melihat, dulu jarang yang menulis tentang perempuan. Hal sederhana, nggak menulis tentang profil perempuan."

Dan ketika gue tanya lagi, apa particular reasonnya sehingga tertarik nulis isu perempuan? Jawabnya: 

"Gimana ya. Aku melihat perempuan itu dulunya seringkali diangkat di media mengalami diskriminasi, yang diangkat banyak unsur seksualitasnya saja. Selain itu, korban kejahatan.

Media kan juga punya kode etik jurnalistik membahas tentang perempuan, tidak diskriminasi terhadap perempuan, tapi itu yang masih banyak pelanggaran. Apalagi aku menemui banyak perempuan yang disekelilingku menjadi korban"


Seiring dengan berjalannya waktu, mbak Alida pun dipertemukan dengan wanita yang menjadi korban KDRT, seksualitas, dan kejahatan lainnya. Mereka yang sudah menjadi korban, kerap kali malah diasingkan oleh masyarakat, mereka disalahkan, tapi satu sisi mereka harus bangkit untuk menghidupi anak-anak mereka.

Mbak Alida pernah dipertemukan dengan seorang wanita yang merupakan istri kedua, beranak 3, dan suami sedang dipenjara. Terbayang nggak oleh kita gimana pontang-pantingnya wanita tersebut bertahan menghidupi dirinya dan 3 anaknya? Tapi mungkin banyak juga yang langsung melihat ke akarnya: itulah kalau jadi istri kedua.. :( Gue sik beberapa kali bertemu dengan orang-orang judgemental seperti ini.

Lanjut lagi dengan cerita wanita tadi, ditengah kepontang-pantingan (ini emang ada yak kata kepontang-pantingan.. LOL) dia harus banting tulang kerja ini itu, sementara suaminya merongrong minta uang terus demi nyabu di penjara. For God's sake!!!

Ada satu lagi cerita..
Ketika sedang di Medan untuk sebuah acara, mbak Alida ini bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu tersenyum. Mereka berdua ternyata sama-sama merupakan nara sumber. Bedanya si ibu merupakan nara sumber kesaksian. Di hadapan audiens, si ibu menceritakan tentang anaknya yang menjadi korban perkosaan oleh ayah kandungnya sendiri. Anaknya pun trauma pastinya. Udah kayak gitu, suaminya itu selingkuh pulak. WHAATTT!!!

Gue aja nggak bisa ngebayangin gimana cara ibu itu move on dengan hidupnya? Hatinya pasti hancur dengan kejadian anaknya diperkosa oleh ayahnya sendiri. Dan dia harus menjadi obat untuk trauma anaknya. Dan dia harus tetap berjuang bertahan hidup. Let's take a look at ourselves in the mirror. Gue merasa malu di keadaan yang seperti sekarang ini gue masih aja mengeluh. Gue harus perbanyak bersyukur dengan segala kemudahan dan kebahagiaan yang ada di hidup gue. Another reminder from my new friend. Inilah indahnya silaturrahmi.

Mari kita lihat dari sisi media. Menurut Mbak Alida, masih ada media yang mengangkat isu seperti contoh di atas dengan pendekatan tulisan yang menyalahkan perempuan.

Kemana si ibu kok anaknya bisa diperkosa?

Hal yang dipelajari oleh mbak Alida dari isu-isu perempuan yang ditemuinya adalah banyak perempuan yang mengalami diskriminasi dan menjadi korban, tapi mereka malah diasingkan. Perempuan itu kemudian bangkit dan berusaha sendiri. Sebaiknya, kita tak menyalahkan mereka tanpa tahu sebetulnya apa yang mereka alami. Karena hidup mereka sudah berat, kita belum tentu kuat bila berada di pihak mereka.

Semoga kedepannya gue akan dipertemukan lagi dengan teman baru yang semacam Mbak Alida, karena pasti akan ada hal-hal baru yang menjadi pelajaran hidup. And I hope akan semakin bertambah jumlah wanita yang ikut memperjuangkan isu-isu perempuan yang ada di kehidupan kita. Amin.

Lemonilo di Keluarga Baim Wong

  Baru selesai nonton video Youtubenya Baim Wong dan istrinya Paula. Seneng ya kalo liat ada kesamaan yg dilakukan selebriti dengan kita, r...