Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Saturday, March 12, 2016

He's (Always) Taking Care of Me


Ini kejadian beberapa hari yang lalu.
Big Mommy itu paling cepet kalah sama masuk angin kronis deh. Kalo udh kayak gitu, anginnya naek ke kepala. Terus kepala rasanya kayak ditujes-tujes pake obeng.

Itu yang gue rasain beberapa hari yang lalu. Kalo udh kayak gitu, udah ga bisa ngapa-ngapain deh. Kecuali maen henpon.. :P

Sesudah gue ngejemput 3 krucil pulang sekolah, gue cuman bisa rebahan. Terus ketiduran. Nggak pake mangap. Pas bangun sakit kepalanya masih eksis. Deeeeyymm!!

Terus makan malem sama krucil. Jam 5 lewat deh. The pain was still there. Selesai kami dinner, my #SweetMarshall nawarin diri untuk mijitin kepala Big Mommy. This kid has something good going on with his fingers. Enak deh kalo buat mijitin.

Cah Bagus istiqomah mijitin kepala emaknya. Sampek akhirnya Maghrib dan Big Mommy harus shalat. Marshall bilang..

"Your hair is curly Mommy.. (kusut akibat kepalanya dipijit-pijit). Syafiq rapihin dulu ya Mommy.."

Marshall (yang kalau di rumah dipanggil dengan nama Syafiq) pergi ke kamar adiknya untuk ngambil sisir, lalu kembali lagi ke kamar ibunya. Lalu nyisirin rambut Big Mommy. Sampek rapih.

Setelah selesai, Big Mommy ke kamar mandi. Wudhu. Lalu bersiap-siap untuk shalat Maghrib.
Di kamar cuman ada sajadah tipis. Tak apalah. Pakai yang tipis juga tak mengapa.
Tiba-tiba Marshall bergerak keluar kamar. Lalu kembali lagi ke kamar dengan membawa sajadah kecil.

"Tunggu, Mommy.."

Lalu dia melapisi sajadah tipis gw dengan sajadah kecil itu di bagian kepala. Gue cuman berdiri ngeliatin.. 

"Supaya Mommy kepalanya nggak sakit. Mommy kan lagi sakit kepala.."

That's the way he treats his mother every day.
I guess the father doesn't have to worry about the mother anymore. Coz he got his 3 legacies who knows exactly how to treat their mothers.

Walopun yaaaa sebelumnya...
Mereka tetep aja lari-larian sepanjang rumah dengan suara hiruk pikuk.
Sebar-sebar lego dimana pun mereka hinggap.
But that was their world I had to deal with.. Just like how they had to deal with their mother's world..

Monday, March 7, 2016

Video Yang Bikin Si Sulung Hampir Berantem Di Sekolah


Eh masa si sulung gue emosi..
Waktu hari Jumat kemaren dia cerita ke Big Mommy.
Salah satu temannya ngedownload salah satu video keluarga kami yg di youtube, terus dia sebar-sebar ke temen sekelas, dan provokasiin temen2nya yang lain untuk ngetawa2in si kakak.

Melvyn pun emosi. Anak itu langsung dia dorong ke dinding, terus dia tarik kerah bajunya tuh anak. Ini anak sama2 ikut taekwondo sama si kakak.

"Loe ada masalah sama gue? Hah? Ada masalah apa loe hah?"

Terus salah seorang temennya langsung ngingetin Melvyn..

"Udah Vyn, orang kayak gitu nggak pantes diladenin"

Untung si Kakak dengerin temennya. Katanya, si Kakak emosi banget sampek nggak peduli diliatin temen2nya. Lalu terjadilah pembicaraan ibu dan anak sulungnya ini..

"Emang diketawainnya apa kak?"

"Kakak diteriakin sama dia.. anak manja! Anak manja! Anak papa!"

"Terus temen2 yang lain ikutan ngetawain juga?"

"Iya ma.."

"Semuanya?"

"Nggak ma.. "

"Yang kroco-kroco aja kan?"

"Iya.."

"I want to ask you something. What do you think of the video? How do you feel? Is it memalukan? Apa kamu malu kamu ada di video itu?"

"Nggak ma. Tapi Kakak sebel diketawa2in. Dia kayak cari2 celah untuk ngebully kakak.."

"Ok. Kamu harus bisa lihat. Tujuannya dia adalah bikin kamu marah. Kalau kamu marah, dia malah seneng karena itu maunya.

Can't you see bahwa sebetulnya anak itu jealous sama kamu? Kamu sholeh, pintar, ganteng.. Dia berharap sekali untuk menjadi seperti kamu. Tapi nggak bisa. Terus frustasi. Akhirnya cuman bisa ngetawa2in..

Dia pasti bisa liat.. berapa viewsnya video itu. Ratusan ribu lho! Video itu disponsori oleh Coca Cola lho. Dia dan temen2 kamu yang ngetawain.. berharap sekali bisa ditonton banyak orang kayak gitu.."

"Iya ma.."

"Dan you know what? Bisa jadi dia iri sama kamu, karena dia tidak punya orang tua seasik orang tua kamu. Oh look at your father, kak.. He's handsome, orangnya baik, ke anak2nya lucu banget.. walaupun mama sebel sama papamu waktu kemaren itu kasih cerita lucu yang kelewatan ke kalian. Dan kamu kenapa nggak tegur papamu siikk.." (ok.. ini emaknya mulai keluar jalur..)

"Hehehhee.. iya ma.."

"I met his father once. Mama pernah liat bapaknya temenmu itu. Dan mama liat cara dia bicara. Then trust me... he's jealous of you!"

Anaknya senyum. Ganteng deh. Terus gue mulai liat deh ada kumis2 tipis di atas bibirnya.. Waakksss.. bentar lagi brewokan deh nih anak kayak bapaknya!

"Jadi... kamu bisa lihat bahwa sebetulnya video itu nggak memalukan. You can see the bigger picture kan jadinya. Next time, jangan kepancing nak. Dibawa santai aja. Ketawain balik aja.. "

"Iya ma..."

"Fokus sama tujuan kamu sekolah disana ya Kak.. You aim for the bigger purpose! Jangan sampai hilang fokus kak.. tujuan selanjutnya adalah SMA negeri. Ok sayang?"

"Ok ma.."

"I love you so much kak.. and am so proud of you!"

"I love you too ma.. tx ma"

Monday, February 2, 2015

Revolusi Mental Orang Tua. Versi Gue.


I learn a lot from my kids.
Especially I learn a lot from my eldest. Karena selalu ada 'kasus' baru kalau sama si Sulung. Terus nanti pas ngadepin adik2nya jadinya udah lebih smooth.

Si sulung untuk pertama kalinya ikutan turnamen taekwondo. Dan hanya dari 1 event ini, gw bisa belajar banyak. Inilah beberapa diantaranya.. yang menunjukkan bahwa Revolusi Mental diperlukan banget oleh orang tua di Indonesia. 

=======

Aaarrgghh... this was the hardest lesson.
Begitu gue tau si Sulung mau ikutan turnamen, pertanyaan pertama gue ke dia adalah:

"Are you sure? Are you ready?"

Dan dia jawabnya yakin banget.. dengan YES.

Sebetulnya.. pertanyaan itu adalah untuk diri gue sendiri.
Sebetulnya yang nggak ready itu adalah gue.
Hati gue ngilu ngebayangin anak gue tendang-tendangan.
Kena perutnya. Kena kepalanya. Kena mukanya.

Tapi ya gue harus belajar. That was a huge step for me.

Begitu hari H-nya.. gue bener2 nervous. Mulut gue berasa kering. Senewen. Suami sampai gue larang untuk nelpon2 karena gue senewen.
Dan gue harus bersikap cool and calm di depan anak2.
Aaargghh.... aren't mother the best actors? :D

But I did it. I was awesome. I guess.
Diluar jeritan2 macam orang kesurupan pas si Sulung lagi tanding.
I was still awesome.
Next time I'll be calmer. I'll be cooler.

Revolusi mental pertama.
Revolusi mental selanjutnya..
Ini diluar diri gue.

Pertandingan udh dimulai.. beberapa partai udh jalan. Di salah satu arena, ada anak sekitaran umur 8 thn tanding. Salah satunya jatuh dan lututnya keinjek lawan. Kesakitan. Nangis.

Bapak2 yg dari tadi berisik di belakang gue dgn logat Sumatranya langsung ngakak ngetawain kenceng banget dan bilang ke anaknya yg umurnya sekitar 8 thn juga:

"Bwahahahaha... nangis! Masa gitu aja nangis.. ahahahhahaa... liat tuh!" Sambil nyikut anaknya.

Gue nengok ke belakang dan spontan bilang: "ya ampun.. kok diketawain sih"

Najmah nanya: kenapa Mommy?

Dengan lantang dan gue tau itu bapak ngeliatin dan dengerin gue, gue pun bilang:

"Sangat tidak baik ya sayang kita menertawakan orang yg sedang kesakitan. Apalagi anak kecil. Secara moral, kelakuan itu buruk sekali.."

Then I don't  hear his laughter anymore..

I mean.. GOD.. really??
Seorang bapak. Berumur matang. Berperilaku seperti itu di depan anaknya?
Dan thanks to him.. gue jadi punya perfect examples yang nyata di depan mata untuk anak2 gue. Mereka jadi tau bahwa orang kayak gitu ada. Mereka bisa belajar dari seorang ayah perilaku yang memalukan.

Revolusi Mental selanjutnya yang diperlukan orang tua Indonesia:
Gue duduk diantara orangtua2 dari sebuah club taekwondo. Kebanyakan dari mereka logat Sumatra. Salah satu anak cowok dari club tersebut udah kelar tanding. Sekitar umur 8-9 tahun. Kalah.

Kecewa keliatan banget dari wajahnya. Gue bisa rasain gimana perasaan di dalem hatinya, kudu balik ke tempat duduk dia yang penuh dengan para orang tua dan juga teman2nya.

Begitu dia sampai di tempatnya, seorang wanita yang gue asumsikan adalah ibunya bilang:

"Kalah? Yeeeee... itulah.. kamu itu kurang fokus.." sambil kasih senyuman seringai yang gue ngeliatnya kesel banget. Gue yang nggak ikut tanding, nggak ngerasain kalah, gue aja eneg banget liat senyumnya.

Terus gue liat ke anaknya. Dia nunduk sambil rahangnya sedikit gerak2. Dia menahan emosi nampaknya. Terus dia duduk. Seorang ibu ngasih dia makanan KFC. Dan ibu2 lain ada yang nanya juga: "gimana? menang? kalah?"

Wanita yang gue asumsikan ibunya langsung jawab: "kalah.. abisan.. dia itu kurang fokus!"

Mothers... did you really have to do that?
Apa perasaan loe udah mati hanya untuk bisa ngerasain apa yang ada di hati anak loe?

Disini gue udah mendapatkan pengingat duluan.. tentang apa yang harus gue lakukan ketika anak gue kalah nanti. Ataupun menang.

Hargai perasaan anak. Rangkai kata-kata yang benar.
Sesuatu yang emang gue pun masih harus belajar banyak.

Oke.. Revolusi Mental selanjutnya:

Masih tentang salah satu orang tua dari klub yang sama.
Dia punya 3 anak yang tampangnya bule2. Cowok semua. Ikutan tanding semua.

Anak pertama kayaknya udah SMA. Atau mungkin kuliah. Namanya Michael.
Anak kedua sekitar umur 10 thn. Namanya Shane.
Anak ketiga sekitar umur 8 thn. Gue nggak tau namanya siapa. Kayaknya Jeremy deh.

Anak ketiganya tanding duluan. Kalah.
Gue bisa denger pembicaraan si anak dengan salah satu ibu2 yang nanyain dia menang atau kalah..

"(aku) kalah. Abisan lawannya nggak seimbang. Dia lebih tinggi gitu."

Terus ibunya datang. Dan membahas kekalahan anaknya dengan ibu2 yang lain.. ucapannya pun sama. Bahwa lawan anaknya nggak seimbang.

And I saw the fight. It was a fair one. Tinggi mereka sama. Hanya saja lawannya itu lebih agresif.

Anaknya yang kedua tanding. Menang.
Menang bukan karena dia berhasil mengalahkan lawan. Tapi karena lawannya nggak hadir. Jadi menang.
Nggak ada pembahasan apa2 dari si ibu tentang hal ini.

Anaknya yang pertama tanding. Gue nggak liat fightnya. Kalah.
Anaknya sih diem aja. Gue emang liat anaknya yang pertama ini karakternya emang pendiem. Nggak banyak ngobrol. Dia sibuk dengan tab, handphone dan earphonenya aja. Nggak merhatiin pertandingan2 yang berlangsung.

Dan gue liat ibunya membahas kekalahan anaknya dengan ibu2 yang lain.
Ucapannya juga mengacu bahwa lawan anaknya nggak sepadan.

Ow God.. really?
Sampai kapan kita sebagai orang tua harus menyalahkan faktor luar untuk sebuah kegagalan yang dilakukan anak kita?
Terus jadinya kapan dong pikiran kita mau terbuka untuk meng-scanning apa yang harus dibenahi dalam diri anak kita?

Dan kejadian ini adalah reminder yang berharga banget untuk gue. Gue bener-bener bisa melihat dari sisi luar, what it looks like to the parents and also to the children.

Being a parents itu emang nggak ada sekolah khususnya. Satu-satunya cara adalah kita harus mau membuka hati dan pikiran kita untuk belajar dari sekitar.. dan yang terpenting adalah belajar dari anak kita.

Dan ya... postingan ini adalah semata-mata untuk gue yang masih harus melakukan revolusi mental sebagai orang tua.

Thursday, May 29, 2014

My Love



While I was enjoying my dinner, my clown boy, Marvell, came to and said..

"Mom, i have present for you.."

"What's that?" I replied..

"My love.."..

How many times do I have to tell the world that having my kids made me feels like in heaven no matter where.

#100HappyDays #YoHappyDays #Marvell

Lemonilo di Keluarga Baim Wong

  Baru selesai nonton video Youtubenya Baim Wong dan istrinya Paula. Seneng ya kalo liat ada kesamaan yg dilakukan selebriti dengan kita, r...