Kedua kaki yang terbiasa menopang tubuh gue dalam menghantam semua cobaan hidup, bener-bener lunglai. Nggak ada kekuatan sama sekali. Tulang-tulangnya kerasa kayak ilang nggak tau kemana. Air mata terproduksi dengan teramat banyaknya sehingga sanggup terus mengalir selama rasa kaget dan duka yg amat dalam ini ada di dada.
Udah nggak peduli lagi alis harus diapain, mata harus dibingkai dengan eyeliner, dan pinggiran bibir yang gelap harus ditutupi dengan lipstik. Nggak peduli lagi. Biarkan mereka apa adanya. Biarkan mereka ikut berduka. Kedua tangan yang terbiasa dipakai untuk 'mencangkul' demi memenuhi semua kebutuhan 4 anak, cuman bisa memegang lemah lengan anak kedua gue, Marshall.
Anak manis yang baru berusia 10 tahun ini harus mengubah fungsinya dari seorang anak yang juga berduka sangat, menjadi sosok lelaki yang menjadi tempat ibunya bersendar. Menguatkan ibunya. Mommy runtuh. Gitu pikirnya.
Iya. Big Mommy rasanya lossss kehilangan separuh jiwa dan raganya. Suami yang biasanya menjadi setengah jiwanya dalam berjuang di dunia, telah dipanggil Allah. Gue nggak tau gimana harus bangkit sesudah ini. Gue nggak tau gimana harus menjadi kuat sesudah ini. Gue nggak tau gimana bisa hidup tanpa cintanya sesudah ini.
Gue hanya bisa menangis. Meraung. Bersender. Gue lemah.. Gue nggak ingin beliau pergi secepat ini.
Lalu tiba-tiba situasi berubah. Total.
Tiba-tiba berasa seolah-olah gw berada beberapa meter dibatas tanah. Menyaksikan orang-orang yang sedang berduka. Gue menyaksikan suami gue menitikkan air mata. Empat anak gue berangkulan menangis bersama. Mereka menangisi kepergian Big Mommy nya.
Ternyata gue yang sedang berkafan siap-siap masuk ke liang kubur. Sementara gue berusaha menjerit kepada suami dan anak-anak gue. Nggak ada yg bisa denger sama sekali. Nggak ada.
"Saling jaga ya nak.. saling sayang.
Kalian harus kuaaatt!!!"
Mereka nggak dengar.
Tanah mulai dijatuhkan ke liangnya. Pertanda sebentar lagi akan tertutup jasad gue dengan tanah.
Mulai berasa sakit.
Mulai berasa takut.
Gue sangat jarang ketakutan. Tapi ini gue takut dan gue pun mulai nangis menjerit.
Gue coba menjeritkan ke suami dan anak-anak gue. Nggak ada yang bisa denger. Nggak ada.
"Jangan pernah tinggalkan shalaaaaattt. Jangan! Kalian pasti menyesal. Sakit banget ini! Banyakin amal baik. Banyakin!!"
Terus gue teriak kesakitan. Tapi gue nggak tau gue diapain.
Lalu gue terhenyak. Gue sadar dengan keadaan deg2an. Gue nggak lagi tidur. Tapi tiba2 gambaran itu muncul di dalam kepala gue.
Strong message. Banget.
Gue tersadarkan akan banyak hal.
Gue belum sepenuhnya mencintai Allah. Gue menumpahkan keseluruhan cinta gue ke suami gue. Sehingga apa jadinya kalau beliau dipanggil nanti. Gue akan lemah. Sangat. Beda halnya kalau gue konsentrasikan cinta gue kepada Allah. Pasti cinta gue terhadap suami juga terjaga. Tapi ada sumber kekuatan yang masuk ke hati gue untuk persiapan ketika hal yg gue takutkan terjadi.
Gue masih harus meningkatkan hormat dan rasa bakti gue ke suami gue. Karena di dunia ini, jelas terlihat gue masih 'lumpuh' tanpa beliau.
Gue masih kurang amalan baik.
Shalat gue pun masih belum baik.
Masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri. Masih. And I will take that chance. Starting from now. Ketika strong reminder itu terjadi beberapa jam yg lalu dan langsung gue tuliskan ketika gue sedang terduduk di Mall menunggu jadwal meeting.
Tulisan ini akan menjadi pengingat gue from time to time. In syaa Allah.
They're the treasures.. My strength.. My batteries.. My powers.. My belief in the power of God.. They're my laughters..My Joy.. My everything in life...
Monday, September 19, 2016
Aku Berduka. Sangat.
Saturday, July 9, 2016
The Love is Still There: Kaos Kaki
Gue itu kemana-mana kalo keluar rumah pasti pakai kaos kaki. Kaos kaki tipis muslimah itu lho. Nggak perlu lah gue jelaskan mengapa ya. Dan nggak perlu jugalah dipertanyakan mengapanya.
Dan.. dari dulu sampek sekarang.. dengan segala kegiatan gue yang segambreng, dari mulai urusan anak-anak sampek urusan cari duit, salah satu cara gue untuk ngecharge tenaga adalah dengan tidur di mobil. Gue itu orangnya pelor abis dari dulu. Begitu masuk mobil dan mesin mobil nyala, mata gue kayak digelayutin hantu pertanda ngantuk dan dalam hitungan detik bisa langsung.. blek... tidur. Temen-temen kuliah gue sampek ngasih julukan 'Abek' singkatan Anak Bekasi ke gue.. :D
Saturday, July 2, 2016
Es Krim Ekonomis atau Es Krim Bangsawan?
Okeh.. balik ke cerita awal.
Thursday, June 16, 2016
#TemenBaru: April Hamsa, Uang Jajan dari Blogging
Gue mau share lagi hasil chatting-chattingan sama temen baru Blogger gue. Siapa tau ada men-temen yang stay-at-home mom, tapi pingin punya kesibukan santai di rumah dan menghasilkan.
April Hamsa.
Apa adanya.
Nggak banyak gue ketemu sama ibu2 muda yang kalo chatting ya apa adanya aja gitu. Banyak yang berusaha menunjukkan ke-super woman-annya. Mungkin termasuk gue. Kalo April sik nggak.
Wednesday, June 1, 2016
#TemanBaru: Rach Alida Bahaweres, Pejuang Masalah Perempuan via Media
Gue punya temen baru seorang jurnalis. Gue share sedikit tentang dia karena gue yakin pasti akan ada manfaatnya untuk para wanita yang membaca. Para pria juga deng..
Namanya Rach Alida Bahaweres. Masih aktif bekerja di majalah Gatra dan juga aktif di AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Ketika gue chatting dengan mbak Alida, langsung ngeklik aja gitu. Well, temen baru gue ini agak beda. Ibu beranak tiga ini mempunyai ketertarikan besar untuk membahas masalah perempuan melalui kemampuannya dan lingkungannya. Ya karena kebetulan mbak Alida ini adalah seorang jurnalis, jadi dia menyuarakan perjuangan masalah perempuannya melalui media. But hey, it's even sharper than a sword!
Ketika gue tanya sejak kapan dan kenapa awalnya kok suka nulis tentang permasalahan perempuan, jawabnya:
"Sejak awal, mba. Sejak kuliah S1 semakin keliatan ketertarikan di isu perempuan. Apalagi pembimbing S1 aku juga dosen terkait gender di UI. Walau beliau mengajarkan komunikasi.
Dari situ, aku aktif di AJI, membuat aku jadi harus semakin belajar juga tentang perempuan. Ditambah lagi, aku melihat, dulu jarang yang menulis tentang perempuan. Hal sederhana, nggak menulis tentang profil perempuan."
Dan ketika gue tanya lagi, apa particular reasonnya sehingga tertarik nulis isu perempuan? Jawabnya:
"Gimana ya. Aku melihat perempuan itu dulunya seringkali diangkat di media mengalami diskriminasi, yang diangkat banyak unsur seksualitasnya saja. Selain itu, korban kejahatan.
Media kan juga punya kode etik jurnalistik membahas tentang perempuan, tidak diskriminasi terhadap perempuan, tapi itu yang masih banyak pelanggaran. Apalagi aku menemui banyak perempuan yang disekelilingku menjadi korban"
Seiring dengan berjalannya waktu, mbak Alida pun dipertemukan dengan wanita yang menjadi korban KDRT, seksualitas, dan kejahatan lainnya. Mereka yang sudah menjadi korban, kerap kali malah diasingkan oleh masyarakat, mereka disalahkan, tapi satu sisi mereka harus bangkit untuk menghidupi anak-anak mereka.
Mbak Alida pernah dipertemukan dengan seorang wanita yang merupakan istri kedua, beranak 3, dan suami sedang dipenjara. Terbayang nggak oleh kita gimana pontang-pantingnya wanita tersebut bertahan menghidupi dirinya dan 3 anaknya? Tapi mungkin banyak juga yang langsung melihat ke akarnya: itulah kalau jadi istri kedua.. :( Gue sik beberapa kali bertemu dengan orang-orang judgemental seperti ini.
Lanjut lagi dengan cerita wanita tadi, ditengah kepontang-pantingan (ini emang ada yak kata kepontang-pantingan.. LOL) dia harus banting tulang kerja ini itu, sementara suaminya merongrong minta uang terus demi nyabu di penjara. For God's sake!!!
Ada satu lagi cerita..
Ketika sedang di Medan untuk sebuah acara, mbak Alida ini bertemu dengan seorang ibu. Ibu itu tersenyum. Mereka berdua ternyata sama-sama merupakan nara sumber. Bedanya si ibu merupakan nara sumber kesaksian. Di hadapan audiens, si ibu menceritakan tentang anaknya yang menjadi korban perkosaan oleh ayah kandungnya sendiri. Anaknya pun trauma pastinya. Udah kayak gitu, suaminya itu selingkuh pulak. WHAATTT!!!
Gue aja nggak bisa ngebayangin gimana cara ibu itu move on dengan hidupnya? Hatinya pasti hancur dengan kejadian anaknya diperkosa oleh ayahnya sendiri. Dan dia harus menjadi obat untuk trauma anaknya. Dan dia harus tetap berjuang bertahan hidup. Let's take a look at ourselves in the mirror. Gue merasa malu di keadaan yang seperti sekarang ini gue masih aja mengeluh. Gue harus perbanyak bersyukur dengan segala kemudahan dan kebahagiaan yang ada di hidup gue. Another reminder from my new friend. Inilah indahnya silaturrahmi.
Mari kita lihat dari sisi media. Menurut Mbak Alida, masih ada media yang mengangkat isu seperti contoh di atas dengan pendekatan tulisan yang menyalahkan perempuan.
Kemana si ibu kok anaknya bisa diperkosa?
Hal yang dipelajari oleh mbak Alida dari isu-isu perempuan yang ditemuinya adalah banyak perempuan yang mengalami diskriminasi dan menjadi korban, tapi mereka malah diasingkan. Perempuan itu kemudian bangkit dan berusaha sendiri. Sebaiknya, kita tak menyalahkan mereka tanpa tahu sebetulnya apa yang mereka alami. Karena hidup mereka sudah berat, kita belum tentu kuat bila berada di pihak mereka.
Semoga kedepannya gue akan dipertemukan lagi dengan teman baru yang semacam Mbak Alida, karena pasti akan ada hal-hal baru yang menjadi pelajaran hidup. And I hope akan semakin bertambah jumlah wanita yang ikut memperjuangkan isu-isu perempuan yang ada di kehidupan kita. Amin.
Sunday, May 15, 2016
#TemanBaru: Anita Carolina, Semangatnya Blogger Newbie
Wait!
Itu bukan maksud saya ngelabelin blogger lama, blogger baru. Senior Junior. Tapi itu memang Anita, teman baru saya, yang bilang kalau dirinya masih newbie. Masih baru. Dan pasti ada dari Anita ini yang bisa kita ambil poin-poinnya. Saya sik pinginnya profil temen-temen baru saya di blog ini bisa memberikan ide atau mungkin membakar semangat para pembaca yang baik hatinya.
Anita Carolina Tampubolon.
Awal chatting di group sama Anita, pertanyaan pertama saya adalah:
"Ini bukan Anita Carolina penyanyi jaman 80an kan?"
Itu bukan maksud saya ngelabelin blogger lama, blogger baru. Senior Junior. Tapi itu memang Anita, teman baru saya, yang bilang kalau dirinya masih newbie. Masih baru. Dan pasti ada dari Anita ini yang bisa kita ambil poin-poinnya. Saya sik pinginnya profil temen-temen baru saya di blog ini bisa memberikan ide atau mungkin membakar semangat para pembaca yang baik hatinya.
Anita Carolina Tampubolon.
Awal chatting di group sama Anita, pertanyaan pertama saya adalah:
"Ini bukan Anita Carolina penyanyi jaman 80an kan?"
Friday, May 6, 2016
#OneStepAhead: Cara Memilih Pendidikan untuk Anak
Materi yang disajikan di acara Office-to-Office Talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal ini, dibawakan oleh Drh. Damayanti Jusuf, M.SC., Ph.D. Beliau seorang praktisi pendidikan di Indonesia, dan pemilik SD Kupu-Kupu dan Sekolah Menengah Garuda Cendekia.
Setelah One Step Ahead Mum mengerti bagaimana mengawal tumbuh kembang anak, lalu mengidentifikasi potensi anak, selanjutnya ibu dapat melakukan perencanaan, dimana salah satunya adalah memberikan dukungan yang tepat bagi anak.
Mengenai pemilihan pendidikan anak, ini merupakan kebingungan yang akan selalu ada. Bisa dibilang bisa menimbulkan masalah baru buat para orangtua. Tapi sekali lagi, segala sesuatunya bisa disiasati kok. Kita para orangtua harus selangkah lebih maju dalam mempersiapkan pendidikan anak, mulai dari memilih sekolah yang tepat, memberikan pendampingan di sekolah hingga menyesuaikan dengan gaya belajar anak. Karena pada dasarnya setiap anak memiliki potensi akan sesuatu hal dan pendidikan yang tepat dapat memaksimalkan potensinya tersebut. Disamping itu orangtua juga harus memasukkan berbagai aktivitas di luar sekolah yang dapat medorong potensi anak secara maksimal.
Apa aja sih pertimbangan dalam memilih sekolah? Ada 4 hal, dan akan gue share infonya satu per satu.
1. Idealisme Keluarga
Dalam menentukan pendidikan yang akan kita pilihkan untuk anak, sebelumnya harus punya visi keluarga dulu. Apakah keluarga oke-oke aja apabila anak bersekolah di sekolah islam, misalnya? Atau keluarga beragama islam, tapi bersekolah di sekolah Katolik, misalnya? Jadi sesuaikan dulu dengan visi keluarga.
Lalu cari tau kurikulum yang digunakan oleh sekolah yang di tuju. Apakah Nasional Plus (bisa ditanyakan ke sekolah yang bersangkutan). Apakah bilingual.
Sesudah itu orientasi sekolah. Harus disurvey betul-betul. Bagaimana keamanannya. Kebersihannya. Lingkungan sekitarnya. Suasana kelasnya. Guru-gurunya. Dan hal-hal detail lainnya. Ini yang kadang banyak sudah dilakukan oleh orangtua, tapi mereka nggak detail-detail amat ngeliatnya.
Dan tentukan apakah orangtua ingin menyekolahkan anaknya di sekolah Negeri atau Swasta. Buat list plus minusnya bersekolah di negeri. Lalu buat plus minusnya bersekolah di swasta.
Untuk menentukan sekolah menengah untuk anak, ditentukan juga.. apakah ingin yang pulang hari atau yang tinggal di asrama. Sama kayak yang sebelumnya, dibuat juga list plus minusnya. Supaya mempermudah kita untuk menentukan keputusan.
2. Kondisi Keluarga
Ini juga harus dibahas dengan detail nih. Apakah orangtua berdomisili tetap di suatu daerah? Nggak akan pindah-pindah? Apakah orangtua memiliki pernikahan campuran (nikah dengen WNA)? Karena ini berpengaruh ke jenis sekolah yang akan diambil. Apakah sekolah internasional atau sekolah yang menggunakan bahasa ibu atau ayah?
Kalau misalnya ortu masih harus berpindah-pindah, jadinya kan bisa ditentukan cari sekolah yang nggak kayak roket melesat biayanya.
3. Keuangan Keluarga
Nah ini yang penting nih. Pada akhirnya segala pertimbangan sebelumnya itu, harus disesuaikan dengan kondisi keuangan keluarga. Karena apabilah pilihan jatuh kepada sekolah swasta, itu artinya uang yang disediakan nggak akan sedikit.
4. Kondisi Anak
Kondisi anak harus selalu ada dalam pertimbangan orangtua. Biar bagaimanapun, yang akan menjalani nantinya adalah anak kita.
Secara umum yang harus kita lihat adalah sebagai berikut:
Kita harus bisa melihat kemampuan akademis anak.
Lalu lihat juga persaingan saat akan masuk ke sekolah tersebut. Soalnya kan ada yaaa.. untuk masuk ke suatu sekolah tertentu, daftarnya harus beberapa tahun sebelumnya.
Lalu lihat juga ukuran sekolahnya. Apakah terlalu kecil, atau terlalu besar.
Lalu bagaimana keadaan sosioekonominya. Karena sudah pasti, anak akan terpengaruh dengan kondisi sosioekonomi teman-temannya. Bukan nggak mungkin ketika kelas 2 SD nanti, si anak akan memaksa meminta dibelikan handphone mahal atau sepatu mahal hanya karena dia ngeliat teman2nya..
Dan kalau secara khusus, yang harus kita perhatikan adalah:
Cara belajar spesifik, difabel, kesubel.
Apakah ada program pembelajaran khusus di sekolah tersebut, siapa tau anak kita membutuhkan.
Dan lihat juga ration guru : murid. Jangan sampai anak kita masuk ke sekolah yang gurunya kewalahan mengatasi muridnya karena jumlahnya terlalu banyak.
Nah hal-hal yang sudah gue jembrengin di atas itulah yang harus kita pertimbangkan dengan baik saat kita mau memilih pendiidikan untuk anak kita. Kalau udah mantap dengan pilihan, tinggal bagaimana komitmen One Step Ahead Mum dalam mendampingi anak kite bersekolah.
Yang harus diingat pada saat kita mendampingi anak bersekolah itu adalah:
ORANGTUA ADALAH ORANGTUA PERTAMA DI RUMAH.
GURU ADALAH ORANGTUA KEDUA DI SEKOLAH.
GURU ADALAH GURU PERTAMA DI SEKOLAH
ORANGTUA ADALAH GURU KEDUA DI RUMAH
Dan yang sering dilupakan orangtua adalah, bahwa orangtua dan guru itu adalah partner. Ini yang harus kita tanamkan baik-baik. Sehingga orangtua nggak bisa main lepas tangan aja akan perkembangan anaknya dalam hal pendidikan hanya karena merasa sudah ‘membayar’ ke sekolah/guru.
Dan yang harus dipahami juga oleh para guru adalah, bahwa orangtua itu bukan klien. Jadi harus ada revolusi pemahaman juga dari para guru agar bisa menjalin komunikasi yang interaktif dengan para orangtua yang merupakan partner para guru.
Dan kita sebagai orangtua dan juga para guru harus bisa mendidik anak agar belajar menghargai sekolah dan gurunya.
Ada hal-hal yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan saat kita mendampingi anak-anak sekolah. Menurut ibu Damayanti, ini dia listnya:
DO:
- Melunasi SPP - ini penting agar kita bisa tetap fokus pada pengamatan perkembangan anak tanpa ada gangguan masalah. Dan membuat anak belajar dengan tenang juga tanpa harus menerima panggilan dari guru.
- Mendukung sekolah - terutama pada kebijakan-kebijakannya yang mendukung kegiatan belajar anak di sekolah.
- Membantu anak sesuai jenjang - ini juga penting untuk dilakukan karena gue masih melihat ada orangtua yang justru lepas tangan dengan kegiatan belajar anaknya. Baru mulai turun tangan ketika anaknya kelas 6 SD karena mau persiapan Ujian Nasional. Lah kemane aje yak...
- Mengobrol dengan anak - gue terbiasa banget melakukan ini dengan 4 anak gue. Dan mereka juga jadinya terbiasa menceritakan hal-hal yang baik dan buruk yang terjadi di sekolah, jadi mempermudah gue dalam mendampingi mereka bersekolah.
- Berkomunikasi dengan sekolah - berdasarkan obrolan dengan anak-anak tadi, jadinya gue bisa berkomunikasi dengan pihak sekolah apabila ada kejadian-kejadian tertentu. Gue juga terbiasa banget berkomunikasi mengenai progres anak-anak gue terutama dalah hal-hal yang emang perlu banget diperhatikan.
Seperti itulah ilmu yang gue dapat dari pakar pendidikan Indonesia di acara talkshow yang diadakan oleh Nutrilon Royal. Langkah-langkah jelas banget jadi bisa jadi pegangan buat kita-kita dalam menentukan pendidikan anak-anak kita.
Pesan terakhir dari ibu Damayanti adalah, anak itu adalah titipan dari Tuhan. Jadi sudah menjadi kewajiban semua orangtua agar bisa menjaga mereka sebaik mungkin. Kita sebagai orangtua harus selangkah lebih maju dalam memilih pendidikan anak. One step ahead, one step at a time.
Sebetulnya sik sesudah sesinya ibu Damayanti, Nutrilon Royal juga menghadirkan pakar financial planner yang udah ngetop banget di Indonesia, Ligwina Hananto. Tapi.. berhubung gue bener-bener paid attention banget pas dia ngomong, dan gue nggak terlalu ngerti bagaimana membahasakan pengetahuan finansial yang gue dapet dari mbak Wina ini, jadi minta maaf banget gue nggak bisa cerita banyak di blog gue ini.
Long story short, apa yang disampaikan mbak Wina adalah kita memang sudah seharusnya menyiapkan dana pendidikan untuk anak dari jauh-jauh hari. Persiapannya itu bisa dengan cara investasi ke:
- Tabungan/Deposito
- Logam Mulia
- Reksadana
- Surat Berharga
- Properti
Dan Tips yang diberikan untuk menyiapkan dana pendidikan anak adalah:
- Tentukan dulu sekolahnya dimana (ini bisa merujuk ke tips dari ibu Damayanti)
- Cari tau biayanya berapa
- Jangka waktu untuk mulai masuk sekolah dan lamanya pendidikan
- Hitung kebutuhan di masa mendatang
- Siapkan dana mulai dari sekarang
- Investasi sesuai profil risiko.
Terus terang gue agak mumet begitu di sharing by mbak Wina ini.. hahhahaa.. secara anak gue kan 4 yaa.. dan gue dan suami itu tipe yang gimana Allah aja lah.. (please please agen asuransi yang abis baca postingan gue ini, nggak perlu prospek-prospek gue yaa.. please..)
Dan gue sik udah usul ke pihak Nutrilon Royal untuk membuat sesi khusus mengenai perencanaan keuangan untuk emak-emak. Pasti gue bakalan duduk paling depan dan nyimak dengan jidat berkerut deehh...
Oke… demikian ilmu yang bisa gue share.. yang gue dapet dari Nutrilon Royal. I was so happy diundang ke acara talkshow ini, karena biar bagaimanapun setiap orangtua pasti butuh reminder.
Dadaaaahh….
Subscribe to:
Posts (Atom)
Lemonilo di Keluarga Baim Wong
Baru selesai nonton video Youtubenya Baim Wong dan istrinya Paula. Seneng ya kalo liat ada kesamaan yg dilakukan selebriti dengan kita, r...
-
Sebut saja namanya Atun.. lagi setengah hati menjiwai menyanyikan lagu Korea yang lagi dia puter di Youtube. Merem melek dia nyanyinya....
-
Kemarin Big Mommy pergi ke Subang, barengan sama Leader juga untuk kasih pembinaan bisnis luarbiasaku di http://bossluarbiasa.com/?id=yonna ...
-
Minggu lalu saya dapet undangan Bicara Gizi Bersama Masako dengan topik utama yaitu Strategi Penurunan Berat Badan Anak Gemuk. Yang aka...





